REGISTER SLOT CASINO SPORTSBOOK POKER PROMO BERITA Hidup bersama Mummy Tertua di Bumi | Cerita Unik

Kamis, 18 November 2021

Hidup bersama Mummy Tertua di Bumi

| Kamis, 18 November 2021

 


          Mumi - Mungkin hidup di kompleks pemakaman tampak aneh bagi sebagian orang,tapi kami sudah terbiasa, ujar ana maria nieto, yang bermukim di kota Arica, Chile.

        Arica, yang berbatasan dengan Peru, Dibangun diatas bukit pasir di gurun Atacama,gurun terkering di dunia. Namun jauh sebelum kota pesisir itu didirikan pada abad ke-16, kawasan tersebut sudah dihuni orang-orang Chinchorro.

        Budaya Chinchorro menjadi sorotan publik pada Juli lalu, manakala organisasi kebudayaan PBB ( UNESCO) memasukkan ratusan mumi yang di awetkan orang-orang Chinchorro ke dalam Daftar Warisan Dunia.

        Mumi - mumi Chinchorro pertama kali di dokumentasikan oleh arkeolog asal Jerman bernama Max Uhle, setelah menemukan sejumlah mumi di pantai. Namun, Perlu waktu selama berpuluh tahun guna menentukan umur mumi-mumi tersebut.

        Penanggalan radio karbon akhirnya memperlihatkan bahwa mumi-mumi tersebut berumur lebih dari 7.000 tahun lalu-lebih tua 2.000 tahun dari mumi-mumi Mesir Kuno yang diketahui secara luas oleh khalayak dunia.

        Fakta ini menjadi bukti arkeologis bahwa mumi-mumi Chinchorro merupakan mumi artifisial paling tua di dunia.

        Bernardo Arriaza, seorang ahli antropologi yang pakar di bidang kebudayaan Chinchorro, mengatakan kaum Chinchorro sengaja berlatih di lokasi tersebut.

        Itu artinya mereka menggunakan teknik pengawetan jenazah, alih-alih sengaja membiarkan jenasah menjadi suami dalam iklim kering walau ada pula ditemukan sejumlah jasad yang menjadi mumi secara alami di lokasi tersebut.

        Orang-orang Chinchorro, menurut Arriaza,membuat sayatan kecil pada jasad yang hendak dijadikan mumi untuk mengeluarkan organ-organ tubuh. Rongga yang ada kemudian dikeringkan, sedangkan kulit jenazah dikupas. 

        Orang-orang Chinchorro, lantas mengisi jasad dengan serat-serat alami serta ranting untuk menegakkannya sebelum menggunakan ilalang untuk menjahit kulit.

        Mereka juga memasang rambut hitam tebal di bagian kepala mumi dan menutupi wajahnya dengan tanah liat serta topeng. Lubang lalu dibuat pada bagian mata dan mulut.

        Akhirnya, jasad dilukis dengan warna merah dan hitam menggunakan pigmen dari mineral , oker , mangan , dan besi oksida.

        Metode dan pendekatan mumifikasi orang-orang Chinchorro amat berbeda dengan teknik yang digunakan bangsa Mesir Kuno, Kata Arriaza.

        Letak perbedaannya, bangsa Mesir kuno tak hanya menggunakan minyak dan perban. Mereka juga hanya melakukan mumifikasi untuk kaum elite yang meninggal dunia . Sedangkan orang-orang Chinchorro memumifikasi para pria, perempuan, anak , bayi, hingga janin terlepas dari status mereka.

        HIDUP BERSAMA PARA JENAZAH

        Keberadaan ratusan mumi di Arica dan lokasi lain tidak menggentarkan penduduk setempat. Mereka justru hidup berdampingan-dan bahkan di atas-para jenazah

        Menemukan sisa-sisa jenazah saat membangun rumah atau ada anjing yang tak sengaja menggali tanah tempat mumi berada merupakan pengalaman sehari-hari penduduk setempat selama bergenerasi-generasi. Hanya saja, mereka baru menyadari betapa berharganya para jenazah itu.

        Kadangkala warga menceritakan kepada kami tentang anak mereka yang menggunakan tengkorak untuk bermain sepak bola dan mengambil pakaian mumi. Tapi sekarang mereka paham untuk melaporkan ke kami ketika mereka menemukan sesuatu dan tidak utak-atik, " kata arkeolog, Janinna Campos Fuentes.

        Dua warga setempat, Ana Maria Nieto dan Paola Pimentel, bahagia Unesco mengakui betapa pentingnya budaya Chinchorro.

        Kedua perempuan ini memimpin rukun warga dekat dua lokasi penggalian dan bekerja sama dengan sekelompok ilmuwan dari Universitas Tarapaca untuk membantu masyarakat memahami pentingnya budaya Chinchorro serta memastikan lokasi-lokasi itu dirawat.

        Saat ini hanya ada sebagian kecil dari 300-an mumi Chinchorro yang ditampilkan sebagian besar ditampung di Museum Arkeologi San Miguel de Azarpa. Meseum yang dimiliki dan dikelola Universitas Tarapaca itu dapat dijangkau dari Arica selama 30 menit berkendara.

        Ada Beberapa rencana agar museum lokal itu dilengkapi fitur interaktif dan memberdayakan warga setempat sebagai pemandu wisata. Di museum itu para pengunjung bisa menyaksikan sejumlah mumi Chinchorro dibaringkan dibawah kaca pengaman. Ada pula pameran yang memperlihatkan proses mumifikasi.

        Ke depan, hendak dibuat museum yang lebih besar agar bisa menampung lebih banyak mumi. Namun, Dana juga di perlukan untuk memastikan mumi-mumi itu terawat dengan baik sehingga tidak rusak.

        Arriaza selaku pakar budaya Chinchorro, serta arkeolog Jannina Campos, meyakini Arica dan bukit-bukit di sekitarnya masih punya banyak harta yang belum ditemukan untuk menemukanya, diperlukan lebih banyak sumber daya.

        Sang Wali Kota, Gerardo Espindola Rojas, berharap dengan dimasukannya mumi-mumi Chinchorro kedalam daftar warisan dunia pariwisata akan bangkit dan tambahan bisa terkumpul.

        Meski Demikian, dia menegaskan pembangunan harus dilakukan secara tepat dengan bekerja sama dengan komunitas yang merawat lokasi tersebut.

        Tidak seperti Roma yang berada diatas monumen-monumen, masyarakat Arica hidup di atas sisa-sisa jenazah dan kami perlu melindungi mumi-mumi.

        Dia mengatakan aturan tata kota sudah siap dan arkeolog akan hadir ketika pembangunan berlangsung guna memastikan sisa-sisa jenazah tidak terganggu.

        Walikota Espindola juga bekeras warisan Arica harus berada di tangan warga setempat dan menguntungkan komunitas lokal,, tidak seperti daerah di Chile yang tanahnya dibeli perusahaan multinasional untung mengambil keuntungan dari pariwisata.

        ketua rukun warga. Anna Maria Prieto mengatakan mumi-mumi Chinchorro akan bermanfaat bagi semua orang.

        Ini adalah kota kecil, tapi bersahabat. Kami ingin turis-turis dan para ilmuwan dari seluruh dunia untuk datang dan belajar mengenai budaya Chinchorro yang luar biasa dan kami alami sepanjang hidup."

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar