REGISTER SLOT CASINO SPORTSBOOK POKER PROMO BERITA Cerita Unik | Deskripsi Singkat Blog di Sini

Cerita Unik

Jumat, 26 November 2021

Sejarah Guan Yu Atau Guan Gong PART 2

Sejarah Guan Yu Atau Guan Gong PART 2

 


                CERITA UNIK - Pada tahun 200, Akhirnya GuanYu mengetahui dimana keberadaan Liu Bei. Dan Guan Yu meninggalkan semua harga beda yang di berikan oleh Cao Cao dan pergi mencari Liu Bei. Tetapi para jendral yang berada di bawah arahan Cao Cao mengatakan dan memberikan ide kepada nya untuk pergi mengejar dan membunuh Guan Yu , akan tetapi Cao Cao menolak usulan tersebut terkait dia sangat salut dan hormat kepada Guan Yu. Setelah itu Guan Yu berhasil menemui Liu Bei di kota Ru'nan.


Beberapa tahun berselang pada tahun 208, Liu Bei melakukan emansipasi dengan bergabung bersama kelompok Dong Wu (Wu Timur) untuk melakukan peperangan melawan Cao Cao. Dalam Peperangan ini terkenal dengan Perang Chi Bi. Akibat dari perang tersebut, sekutu Liu Bei dan Sun Quan berhasil memukul mundur pasukan Cao Cao dan akhirnya mereka kalah dalam perang tersebut. Dalam perang tersebut ada Guan Yu, Zhang Fei, Dan Zhao Yun yang ikut ambil andil dalam perang tersebut. Pada akhirnya Liu Bei lah yang berhasil menguasai wilayah Jiang Nan. Liu Bei kemudian memberikan gelar Thai Sou kepada Guan Yu yang artinya setingkat sebagai bupati pemerintahan di kota Xiang Yang dengan jabatan sebagai JENDRAL.


Pada tahun 211, Liu Bei melakukan invasi dan memerintahkan Zhuge Liang bersama Guan Yu untuk menjaga provinsi Jing Zhou. Setahun berselang Zhuge Liang diperintahkan untuk masuk kedalam wilayah Shu dan hanya tertinggal Guan Yu yang menjaga Wilayah Provinsi tersebut.


Pada musim semi Tahun 215, Sun Quan gagal mengambil kembali wilayah Jing Zhou dari Liu Bei dan membuat Sun Zuan memerintahkan Lu Meng untuk menyerang dan merebut kembali daerah Chang Sa, Gui Yang, dan mengepung daerah Ling Ling. Pada bulan ke 5 pada tahun itu, Liu Bei memimpin pasukan sebanyak 50.000 untuk berperang merebut wilayah kekuasaan yang di duduki oleh oleh Dong Wu dan juga memerintahkan Jendral Perang mereka Guan Yu  membawa 30.000 pasukan untuk membantunya berperang akan tetapi Dong Wu juga tidak sampai situ saja dia sudah mempersiapkan semua dengan matang sehingga hampir tidak mungkin untuk kalah. Pada saat itu Dong Wu memiliki jendral perang mereka yaitu Lu Su mengajak Guan Yu untuk bertemu di kota yang bernama Yi Yang, Dimana ada beberapa pasukan Dong Wu. Guan Yu datang menghadiri acara tersebut dengan hanya membawa pasukan dua orang saja. Guan Yu pun berhasil dengan selamat.


Pada Tahun 219 Liu Bei menobatkan dirinya sebagai Raja Han Zhong dan memberikan jabatan kepada Guan Yu menjadi JENDRAL BESAR. Pada bulan ke-7, Guan Yu mengabaikan ancaman dari Dong Wu dan jadinya terjadi peperangan di kota Fan Cheng yang merupakan wilayah kekuasan Cao Cao. Cao Cao kemudian mengirimkan pasukan yang di pimpin oleh Jendral Yu Jin. Guan Yu yang sedang disana membuat rencana dengan pergi membawa air sungai Han ke daerah tempat pasukan berasal dari negara Wei serta menangkap Yu Jin. Cao Cao yang merasa semakin terancam dan berniat berpindah ibukota, tetapi penasehat hukum Sima Yu mengusulkan untuk bersekutu dengan Shun Quan yaitu raja dari Dong Wu untuk melakukan penyerangan kepada pasukan Guan Yu dari belakang. 


Cao Cao pun setuju dengan rencana tersebut dan bersedia untuk bersekutu. Sun Quan yang juga setuju dengan memerintahkan jendral Lu Meng untuk menyiapkan peperangan dengan Guan Yu. Cao Cao mempunyai cara licik dengan membocorkan penyerangan Sun Quan ini kepada Guan Yu yang bermaksud supaya Guan Yu mundur dari peperangan tersebut.


Setelah Guan Yu mengetahui bahwa jendral Lu Meng telah mempersiapkan perang tersebut ke daerah Provinsi Jing Zhou, Guan Yu menjadi ragu dalam mengambil keputusan apakah akan mundur atau maju untuk menyerang kerjaan Wei atau tetap bertahan di provinsi Jing Zhou.


Apalagi anak buah Guan Yu yang sedang bertugas dalam menjaga wilayah pertahanan Nan Jun seperti Mi Fang dan Fu Shi Ren yang tidak senang dengan Guan Yu karena memihak kepada Sun Quan. Pasukan Wu juga telah menyendera keluarga prajurit Shu, oleh karena itu semangat prajurit Shu menjadi lemah. Setelah itu pasukan keluarga Wu yang telah bekerja sama dengan kerjaan Wei melakukan pengepungan kepada pasukan yang di pimpin oleh Guan Yu dan pada akhirnya kalah oleh pasukan sekutu Wu dan Wei.


Guan Yu bersama beberapa pasukan kerajaan Shu mundur ke wilayah kekuasaan Shu yakni di kota Shang Yong. Tetapi sebelum mereka sampai di perbatasan. Guan Yu telah tertangkap oleh prajurit kerajaan Wu yaitu Ma Zhong. Guan Yu yang begitu setia dengan Loyalitas dan Respect kepada Liu Bei tetap tidak akan menyerahkan diri dan pada akhirnya dia dibunuh oleh Ma Zhong dengan hukuman penggal kepala. Guan Yu pun wafat di Usia 56 tahun. 


Dalam Agama Buddha Guan Yu adalah Bodhisatwa pelindung Dharma, dan di Taoisme Guan Yu dilambangkan dengan kesetiaan dengan gelar " Guan Sheng Di Jun ". Di kalangan warga Tionghua Guan Yu dikenal sebagai Guan Gong

Kamis, 25 November 2021

Sejarah Guan Yu Atau Guan Gong PART 1

Sejarah Guan Yu Atau Guan Gong PART 1

 


                CERITA UNIK - Sejarah tentang Guan Yu memang tidak ada habisnya. Dan begitu banyak vesi yang telah menceritakan tentang dirinya sebagai panglima perang pada masa Samkok ( Tiga Kerjaan ) sebagai jendral Besar di kerajaan Shu Nan. Guanyu sendiri bersama dengan tokoh lainnya seperti Jendral Zhang Fei, Jendral Zhao Yun dan Penasehat militer Zhuge Liang membantu Liu bei mendirikan negara kerjaan Shu Han yaitu menjadi negara kerjaan di Masa Samkok. Guan Yu yang mendapat jabatan sebagai Jendral Besar dan juga gelar bangsawan Shou Ting Hou di masa dinasi Han.


Pada tahun 184, Guan Yu melanggar hukum di daerah kampung halamannya yaitu Hedong yang memaksakan dirinya harus melarikan diri. Lalu ketika dia tiba di daerah Zhuo Jun, GuanYu bertemu dengan Liu Bei yang sedang merekrut pasukan untuk membantu pemerintahan Dinasi Han dalam berperang melawan pemberontakan Huang Jin. Karena mereka memiliki tujuan dan ambisi yang sama yaitu membangkitkan kembali Dinasti Han dan menciptakan kedamaian untuk masyarakat mereka. Dan pada akhirnya Guan Yu memutuskan untuk ikut Liu Bei untuk berjuang mewujudkan impiannya tersebut.


Puluhan peperangan pun telah di lewatinya bersama sahabat sekaligus saudara nya yaitu Liu Bei dan Zhang Fei. Dengan berani dan tanpa takut, Guan Yu bersemangat untuk berperang. Meskipun di peperangan sering terjadi kekalahan dan ketidak pastian. Tapi itu tidak membuat dirinya mundur ataupun mengeluh serta dia tetap setia bersama kedua orang yang sudah di anggap sebagai saudaranya tersebut berperang pada saat itu.


Tahun 196, Liu Bei yang bergabung dengan pihak Cao Cao yang saat itu sedang menjabat sebagai Perdana Menteri Dinasti Han serta merupakan kelompok yang memiliki wewenang dan berkekuatan besar. Guan Yu pernah memberikan ide kepada Liu Bei untuk berperang dan membunuh Cao Cao pada saat melakukan kegiatan berburu binatang liar di dalam hutan lalu usulan Guan Yu ditolak oleh Liu Bei.


Pada tahun 199, Liu Bei melakukan pemberontakan kepada Cao Cao karena mereka memilik perbedaan prinsip dan ideologi dan dirinya melarikan diri ke Provinsi yang bernama Xu Zhou. Guan Yu yang ditugaskan untuk menjaga kota Xia Pi sebagai Tai Shou.


Dan pada tahun 200. Cao Cao melakukan penyerangan ke daerah Xu Zhou ditempat dimana Liu Bei dan Zhang Fei berada. Setelah itu mereka kabur untuk melindungi istri Liu Bei, Guan Yu terpaksa menyerahkan diri kepada Cao Cao. Cao Cao kemudian mengangkat Guan Yu sebagai Jendral Perang dan berusaha memenuhi apa yang ingin Guan Yu katakan kepada Cao Cao. Setelah itu Cao cao juga mengutuse Zhang Liao ( dia adalah teman Guan Yu yang telah berpihak kepada Cao cao ) untuk mengetahui apakah yang Guan Yu inginkan Guan Yu. Guan Yu kemudian mengatakan kepada Zhang Liao. "Saya mengakui bahwa sebenarnya Cao Cao sangat baik terhadap saya. Tetapi saya berhutang budi kepada Liu Bei dan pernah bersumpah akan sehidup semati bersamanya. Saya tidak akan mengingkari Sumpah tersebut. Jadi karena itu, saya tetap akan kembali berusaha mencari keberadaan Liu Bei. Tetapi sebelum saya pergi dari pihak Cao Cao saya akan melakukan suatu hal yang berguna untuk kebaikannya kepada diriku". ucap Guan Yu kepada Zhang Liao. Setelah itu Cao Cao merasakan betapa setianya Guan Yu kepada kakak angkatnya tersebut.


Pada Saat peperangan Cao Cao dengan Yuan Shao yang dikenal sebagai perang Guan Du, Yuan Shao mengirimkan beberapa pasukan dibawah tangan jendral Yan Liang menyerang daerah Bai Ma pertahanan Bai Ma berada dalam situasi yang sangat mendesak. Cao Cao mengirimkan pasukan  terbaiknya yang dipimpin oleh Zhang Liao dan Guan Yu untuk mempertahan wilayah tersebut. Pasukan yang dipimpin oleh Yan Liang dipukul mundur dan berhasil meraih wilayah Bai Ma. Dan untuk mencegah perginya Guan Yu dari kerjaannya, Cao cao meminta kepada kaisar Han Xian Di untuk segera memberikan gelar bangsawan Shou Ting Hou.


Senin, 22 November 2021

Kisah Tiga Kerajaan ( Sam kok ) tiongkok

Kisah Tiga Kerajaan ( Sam kok ) tiongkok

 


                Cerita Sam kok - Kisah klasik di negara China ini begitu populer hingga beredar puluhan yang di adaptasikan sebagai film, game, bahkan komik yang hampir tidak pernah putus ceritanya. Bercerita tentang usaha ratusan tokoh dalam berperang dan menyelamatkan negara mereka dari Kehancuran ( Han AD 220-289 ). Dimulai dari usaha menumpas pemberontakan dan memperbaiki negara, tetapi karena ada perbedaan motivasi. pandangan dan kepentingan masing-masing tokoh akhirnya berujung pada perpecahan yang terjadi pada 3 negara atau kerajaan.

                Uniknya Kisah Tiga Negara bukan hanya sekedar kisah atau mitos belaka tetapi betul-betul bercerita tentang tokoh dan pelaku sejarah yang betulan ada dan hidup di masa tersebut. Rangkaian kejadian yang diceritakan sampai akhirnya pecah menjadi 3 kerjaan sesuai dengan sejarah yang diungkapkan. hanya saja banyak versi yang berbeda kejadian. detail serta akurasinya yang berkurang atau berubah karena terus menerus diceritakan ulang secara lisan sejak kejadian tersebut berjalan pada abad ke 3.

                Padahal kisah Sam kok itu sejatinya adalah karya sastra. Faktor kekayaan sejarah di dalamnya adalah kepintaran oleh penulis yakni Luo Guanzhong ( 1330-1400) dalam menceritakan konflik yang terjadi sesuai dengan kejadian aslinya sebagai sejarah politik. motivasi hingga amsbisi yang dimiliki oleh sekian ratus tokoh dalam cerita. Hal ini membuat dunia menciptakan cerita ini mejadi sangat nyata dan begitu real. Tapi sebenarnya di dalam cerita tersebut banyak kesalahan dan inakurasi sejarah.

              Sebagai karya sastra kisah Tiga Negara yang memiliki ragam kekeliruan sejarah. Hal ini terjadi karena 2 alasan. alasan yang pertama adalah terbatasnya data sejarah yang dimiliki oleh sang penulis. Ketika itu catatan sejarah resmi tersimpan oleh lembaga kekaisaran sehingga di kaji ulang hampir mustahil untuk melakukan kecuali oleh pejabat terkait. Karena itu kemungkinan terbesar penulis hanya berkerja dengan tulisan dan data-data sekunder yang diwariskan oleh penulis-penulis sebelumnya.

            Kisah Tiga Negara dipercaya bukan hasil karya dari seorang pengarang saja tetapi komplikasi dari puluhan bahkan tulisan yang dikumpulkan dari satu generasi ke generasi lainnya, karena itu Luo Guanzhong tidak menuliskan namanya dalam cetakan Kisah Tiga Negara karena menganggap karya tersebut bukanlah hasil ciptaan pribadi. Lalu alasan yang kedua, kekeliruan sejarah dalam kisah Tiga Negara terjadi karena faktor kesengajaan.

            Jangan bingung, kekeliruan sejarah ini disengaja karena bertujuan untuk menggugah Nasionalisme dan semangat bela negara generasi muda di zamannya. ketika kasih ini dibuat negeri China sedang dikualisi oleh bangsa asing yakni dinasti Yuan (Mongol) dan sedang berjuang untuk merebut kemerdekaan kembali. Oleh karena itu dalam cerita banyak yang dilakukan penekanan pada unsur cinta negara, loyalitas kepada bangsa dan mejunjung tinggi nilai-nilai keadilan.

          Sementara Liu Bei diceritakan sebagai penguasa ideal yang di cintai rakyat. Cao Cao seorang tokoh dari kubu lain diceritakan sebagai sosok licik, ambisius, kurang bermoral. Hal ini terjadi karena kebutuhan narasi cerita yang membutuhkan sisi baik dan sisi jahat agar menarik untuk diikuti. Cao cao sekedar mendapatkan porsi Antagonis atau pemeran jahat. tentu bukan hanya soal karakter tetapi jalan ceritanya pun agak menyimpang dari sejarah.

            Faktanya Liu Bei adalah seorang warlord atau penguasa militer yang kapabel dan aktif berperang selama masa konflik sehingga berhasil keluar sebagai salah satu penguasa dari 3 kerajaan. dia memang diketahui lebih peduli dengan nasib rakyat kecil tetapi bukanlah seorang naif yang menolak berperang. banyak siasat dan tipu muslihat perang yang dilakukan oleh Liu Bei tetapi disebutkan untuk dilakukan oleh bawahannya dalam cerita tersebut untuk menjaga imagenya. 

            Demikian juga sebaliknya, Cao cao selalu diceritakan sebagai seorang egois yang berdarah dingin dan penuh kecurangan dalam bertindak, padahal dia melakukan banyak kebaikan juga sehingga penduduk di dataran tengah dan utara china bisa selamat dari bencana kelaparan dan peperangan. menghadapi perbedaan yang kontras antara karya sastra dan fakta sejarah yang sebagaimana kita sebaliknya menyikapi kisah Tiga Negara ?

            Karya sastra Kisah Tiga negara yang kita kenal merupakan kompilasi Luo Guanzhong dan secara formal sebagai Sanguo-yanyi. oleh para ahli, karya sastra ini disebut - disebut memiliki kadar sejarah sekitar 70%. jadi latar belakang dan banyak kejadian yang terjadi lumayan sesuai dengan fakta sejarah tetapi 30% lainnya erkaan karena dibutuhkan untuk kepentingan narasi cerita. lalu bagaimana dengan sejarah asli mengenai era Tiga Negara ?

           Memperkenalkan Sanguo-Zhi atau Records Of the Three Kingdoms. sebuah catatan sejarah yang dituliskan pada masa akhir dinasti Han. Dibuat oleh Chen Shou (233-297) yang hidup pada masa tesebut dan menerima tugas dari pemerintah untuk menulis kejadian yang berlangsung pada masa Tiga kerjaan. Pemilihan Chen Shou sendiri disengaja karena dianggap sebagai sosok yang lebih dikenal dimana dia bukan merupakan pejabat asli dari dinasti yang berkuasa.

            Karya Chen Shou berbentuk kumpulan biografi yang diakuin oleh kekaisaran sebagai dokumen sejarah resmi. tentu dokumen yang sedemikian penting tidak lepas dari beragam kritik. sanggahan , maupun cross check dengan narasumber yang masih hidup atau pencatatan resmi kekaisaran. karyanya tersebut sudah melalui banyak kritisi. revisi dan penilian lanjutan oleh akademi dan departemen pencatatan kekaisaran baik yang sejaman maupun pada era setelahnya.

           Bisa dimengerti bahwa Sanguozhi kemudian diakui sebagai dokumen sejarah oleh para ahli. Bebas dari bias atau propaganda penguasa karena terus-menerus mengalami revisi yang dilakukan oleh para ahli yang hidup di zaman dan dinasi sebelahnya sehingga tidak memiliki kepentingan politis untuk melakukan distrosi sejarah. Karena itu kredibilitas catatan sejarah tersebut dianggap tinggi dan layak menjadi sumber untuk mempelajari sejarah Tiga Negara yang sebenarnya.

            Demikian pentingnya dokumen ini sehingga ketika ditemukan oleh sejarawan modern, ratusan biografi tersebut dengan beragam dokumen pelengkap yang berisi kritisi. komentar serta fakta pembanding yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainya.

            Catatan sejarah ini sebagian sudah diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh para pemerhati sejarah klasik. namun sejauh ini kurang begitu populer dibandingkan dengan versi novelnya karena tidak berbentuk cerita ataupun tanpa narasi. lebih mirip dengan berita yang baku dan formal. setidaknya keberadaan catatan sejarah tersebut membuat pembaca modern mampu memisahkan antara mitos dan fakta yang terjadi dalam kisah Tiga Negara.

            Dengan membandingkan Kisah Tiga Negara atau Sanguo-yanyi dengan catatan sanguo-zhi bisa diketahui peristiwa sejarah yang sebenarnya terjadi. banyak pihak yang sudah melakukan cross check antara sumber tersebut dan mendapati banyak perbedaan. rangkuman dari perbedaan tersebut sudah ada entry wiki-nya sendiri yang bisa dilihat.

        Bisa dilihat formatnya berupa biografi yang bercerita tentang keputusan yang di ambil oleh seorang tokoh, alasan jasa serta tidak luput kesalahan yang mereka perbuat. 


            Sumber : Google 

'Guan Yu' Sang Dewa Perang Berwajah Merah Yang Terkenal Dengan Wajah Merahnya.

'Guan Yu' Sang Dewa Perang Berwajah Merah Yang Terkenal Dengan Wajah Merahnya.

Guan yu Sang Dewa perang

                GUAN YU - Dewa perang asal Tiongkok yang terkenal dengan sebutan Guan Yu atau dalam agama Buddha di sebut sebagai Dewa Kwan Kong. Guan Yu yang merupakan penduduk asli dari kabupaten Hedong ( Sekarang lebih dikenal sebagai kota Yuncheng ), Provinsi Shanxi, Tiongkok ini merupakah panglima perang terkenal semasa hidupnya. Dia memiliki gelar Han Shou Ting Hou oleh Kaisar Han yang memiliki arti ' Marquis dari Han Shou '.

              Guan Yu merupakan lambang dari Panglima Sejati. Dia selalu menepati janji serta sumpahnya, sehimgga dia sangat dipuja akan kesetiaannya serta kejujuran yang dia miliki. Selain itu, dia juga merupakan sosok yang di puja sebagai Dewa Perlindungan Rakyat dari adanya malapetaka peperangan yang mengerikan.

               Guan Yu yang dijuluki sebagai Dewa Perang memiliki makna bahwa dia adalah Dewa yang dapat menghindarkan peperangan serta segala akibat dari perang yang membuat masyarakat menjadi sengsara. Hal tersebut sesuai dengan watak Guan Yu yang Budiman. Menurut cerita pada novel San Guo karang dari Luo Guanzhong, sosok Guan Yu digambarkan sebagai sosok yang memiliki tubuh besar dengan jenggot panjang, serta wajah berwarna Merah kehitaman. Wajahnya yang berwarna merah tersebut disebabkan karena dia sedang membasuh mukanya dengan air dari sebuah sungai kecil di pegunungan saat dia melarikan diri di Dong Guan, Shanxi.

               Pelarian tersebut disebabkan karena dia telah membunuh begitu banyak pasukan musuh yang telah merampas anak perempuan satu-satunya dari perampokan saat itu sedang menangis sedih. Hal itu membuatnya murka dan sedih adalah, anak perempuan tersebut merupakan satu-satunya tempat dia menggantungkan kehidupan. Selain itu, anak perempuan itu akan dijadikan gunduk oleh wedana tersebut. Hal tersebut membuat Guan Yu menjadi marah dan membunuh Wedana jahat tersebut.

              Perubahan warna wajah merah tersebut membuat Guan Yu tidak dikenali. Hal tersebut menjadikan dirinya dengan mudah untuk mengelabui dan mudah menyelinap dari kejaran para petugas yang ditugaskan untuk menangkapnya.

             Beberapa kisah lain Tentang Guan Yu menjadi kisah insipiratif di kalangan orang Tionghua. Seperti kisah sumpah setianya di kebun buah persik, kisah Guan Yu yang terluka, serta kisah tentang kekalahan dan kematiannya. Selain itu Kwan Kong memperoleh gelar kedewaan yang sejajar dengan Xuan Tian Shang Di. Dia disebut sebagai Guan Di atau Guan Di Ya yang artinya adalah Paduka Maha Raja Guan.

          

Kamis, 18 November 2021

Hidup bersama Mummy Tertua di Bumi

Hidup bersama Mummy Tertua di Bumi

 


          Mumi - Mungkin hidup di kompleks pemakaman tampak aneh bagi sebagian orang,tapi kami sudah terbiasa, ujar ana maria nieto, yang bermukim di kota Arica, Chile.

        Arica, yang berbatasan dengan Peru, Dibangun diatas bukit pasir di gurun Atacama,gurun terkering di dunia. Namun jauh sebelum kota pesisir itu didirikan pada abad ke-16, kawasan tersebut sudah dihuni orang-orang Chinchorro.

        Budaya Chinchorro menjadi sorotan publik pada Juli lalu, manakala organisasi kebudayaan PBB ( UNESCO) memasukkan ratusan mumi yang di awetkan orang-orang Chinchorro ke dalam Daftar Warisan Dunia.

        Mumi - mumi Chinchorro pertama kali di dokumentasikan oleh arkeolog asal Jerman bernama Max Uhle, setelah menemukan sejumlah mumi di pantai. Namun, Perlu waktu selama berpuluh tahun guna menentukan umur mumi-mumi tersebut.

        Penanggalan radio karbon akhirnya memperlihatkan bahwa mumi-mumi tersebut berumur lebih dari 7.000 tahun lalu-lebih tua 2.000 tahun dari mumi-mumi Mesir Kuno yang diketahui secara luas oleh khalayak dunia.

        Fakta ini menjadi bukti arkeologis bahwa mumi-mumi Chinchorro merupakan mumi artifisial paling tua di dunia.

        Bernardo Arriaza, seorang ahli antropologi yang pakar di bidang kebudayaan Chinchorro, mengatakan kaum Chinchorro sengaja berlatih di lokasi tersebut.

        Itu artinya mereka menggunakan teknik pengawetan jenazah, alih-alih sengaja membiarkan jenasah menjadi suami dalam iklim kering walau ada pula ditemukan sejumlah jasad yang menjadi mumi secara alami di lokasi tersebut.

        Orang-orang Chinchorro, menurut Arriaza,membuat sayatan kecil pada jasad yang hendak dijadikan mumi untuk mengeluarkan organ-organ tubuh. Rongga yang ada kemudian dikeringkan, sedangkan kulit jenazah dikupas. 

        Orang-orang Chinchorro, lantas mengisi jasad dengan serat-serat alami serta ranting untuk menegakkannya sebelum menggunakan ilalang untuk menjahit kulit.

        Mereka juga memasang rambut hitam tebal di bagian kepala mumi dan menutupi wajahnya dengan tanah liat serta topeng. Lubang lalu dibuat pada bagian mata dan mulut.

        Akhirnya, jasad dilukis dengan warna merah dan hitam menggunakan pigmen dari mineral , oker , mangan , dan besi oksida.

        Metode dan pendekatan mumifikasi orang-orang Chinchorro amat berbeda dengan teknik yang digunakan bangsa Mesir Kuno, Kata Arriaza.

        Letak perbedaannya, bangsa Mesir kuno tak hanya menggunakan minyak dan perban. Mereka juga hanya melakukan mumifikasi untuk kaum elite yang meninggal dunia . Sedangkan orang-orang Chinchorro memumifikasi para pria, perempuan, anak , bayi, hingga janin terlepas dari status mereka.

        HIDUP BERSAMA PARA JENAZAH

        Keberadaan ratusan mumi di Arica dan lokasi lain tidak menggentarkan penduduk setempat. Mereka justru hidup berdampingan-dan bahkan di atas-para jenazah

        Menemukan sisa-sisa jenazah saat membangun rumah atau ada anjing yang tak sengaja menggali tanah tempat mumi berada merupakan pengalaman sehari-hari penduduk setempat selama bergenerasi-generasi. Hanya saja, mereka baru menyadari betapa berharganya para jenazah itu.

        Kadangkala warga menceritakan kepada kami tentang anak mereka yang menggunakan tengkorak untuk bermain sepak bola dan mengambil pakaian mumi. Tapi sekarang mereka paham untuk melaporkan ke kami ketika mereka menemukan sesuatu dan tidak utak-atik, " kata arkeolog, Janinna Campos Fuentes.

        Dua warga setempat, Ana Maria Nieto dan Paola Pimentel, bahagia Unesco mengakui betapa pentingnya budaya Chinchorro.

        Kedua perempuan ini memimpin rukun warga dekat dua lokasi penggalian dan bekerja sama dengan sekelompok ilmuwan dari Universitas Tarapaca untuk membantu masyarakat memahami pentingnya budaya Chinchorro serta memastikan lokasi-lokasi itu dirawat.

        Saat ini hanya ada sebagian kecil dari 300-an mumi Chinchorro yang ditampilkan sebagian besar ditampung di Museum Arkeologi San Miguel de Azarpa. Meseum yang dimiliki dan dikelola Universitas Tarapaca itu dapat dijangkau dari Arica selama 30 menit berkendara.

        Ada Beberapa rencana agar museum lokal itu dilengkapi fitur interaktif dan memberdayakan warga setempat sebagai pemandu wisata. Di museum itu para pengunjung bisa menyaksikan sejumlah mumi Chinchorro dibaringkan dibawah kaca pengaman. Ada pula pameran yang memperlihatkan proses mumifikasi.

        Ke depan, hendak dibuat museum yang lebih besar agar bisa menampung lebih banyak mumi. Namun, Dana juga di perlukan untuk memastikan mumi-mumi itu terawat dengan baik sehingga tidak rusak.

        Arriaza selaku pakar budaya Chinchorro, serta arkeolog Jannina Campos, meyakini Arica dan bukit-bukit di sekitarnya masih punya banyak harta yang belum ditemukan untuk menemukanya, diperlukan lebih banyak sumber daya.

        Sang Wali Kota, Gerardo Espindola Rojas, berharap dengan dimasukannya mumi-mumi Chinchorro kedalam daftar warisan dunia pariwisata akan bangkit dan tambahan bisa terkumpul.

        Meski Demikian, dia menegaskan pembangunan harus dilakukan secara tepat dengan bekerja sama dengan komunitas yang merawat lokasi tersebut.

        Tidak seperti Roma yang berada diatas monumen-monumen, masyarakat Arica hidup di atas sisa-sisa jenazah dan kami perlu melindungi mumi-mumi.

        Dia mengatakan aturan tata kota sudah siap dan arkeolog akan hadir ketika pembangunan berlangsung guna memastikan sisa-sisa jenazah tidak terganggu.

        Walikota Espindola juga bekeras warisan Arica harus berada di tangan warga setempat dan menguntungkan komunitas lokal,, tidak seperti daerah di Chile yang tanahnya dibeli perusahaan multinasional untung mengambil keuntungan dari pariwisata.

        ketua rukun warga. Anna Maria Prieto mengatakan mumi-mumi Chinchorro akan bermanfaat bagi semua orang.

        Ini adalah kota kecil, tapi bersahabat. Kami ingin turis-turis dan para ilmuwan dari seluruh dunia untuk datang dan belajar mengenai budaya Chinchorro yang luar biasa dan kami alami sepanjang hidup."